Diberdayakan oleh Blogger.

follower

Mengenai Saya

RSS

Kesehatan dan keselamatan kerja

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

A. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Pengertian sehat senantiasa digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga menunjukan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya. Keselamatan dan kesehatan kerja atau sering disebut K3 dewasa ini merupakan istilah yang sangat populer. Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata ‘safety’ dan biasanya selalu dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris celaka (near-miss).
Kesehatan berasal dari bahasa Inggris ‘health’, yang dewasa ini tidak hanya berarti terbebasnya seseorang dari penyakit, tetapi pengertian sehat mempunyai makna sehat secara fisik, mental dan juga sehat secara sosial. Dengan demikian pengertian sehat secara utuh menunjukkan pengertian sejahtera (well-being).

Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja menurut para ahli :
Menurut Mangkunegara (2002, p.163) : Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya.
Menurut Simanjuntak (1994) : Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja mumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
Menurut Suma’mur (2001, p.104) : Keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.
Dari pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa kesehatan dan Keselamatan Kerja merupakan upaya untuk mengurangi resiko kecelakaan penyakit akibat bekerja yang berkaitan dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahannya yang pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan antara keselamatan dan kesehatan kerja.
Pada hakekatnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja mempunyai tujuan untuk memperkecil atau menghilangkan potensi bahaya atau risiko yang dapat mengakibatkan kesakitan dan kecelakaan dan kerugian yang mungkin terjadi. Konsep berpikir Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah menghindari resiko sakit dan celaka dengan pendekatan ilmiah dan praktis secara sistimatis (systematic), dan dalam kerangka pikir kesistiman (system oriented).
Untuk lebih memahaminya berikut tujuan dari Kesehatan dan Keselamatan Kerja :
1. Setiap pegawai mendapat jaminan kesehatan dan keselamatan kerja baik secara fisik,social dan psikologis
2. Setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja
3. Terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja
4. Mengurangi bahaya kecelakaan akibat kerja
5. Mengurangi penyakit atau resiko penyebab penyakit
6. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja dapat digunakan sesuai prosedur sebaik-baiknya
7. Perbaikan lingkungan kerja dan pekerjan yang mendukung kesehatan dan keselamatan
8. Pekerjaan dapat terselesaikan secara maximal tanpa ada gangguan

Dari beberapa tujuan diatas kita bisa sedikit memahami betapa pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Dengan semakin mengerti apa itu K3 maka potensi terjadinya kecelakaan akan semakin rendah dan dengan sendirinya produktifitas kerjapun akan tercipta secara maksimal.

B. Prinsip-Prinsip Dalam K3
Menurut ILO (International Labor Organization) dalam resolusinya menyatakan ada 3 prinsip dasar K3, yaitu :
1. Pekerjaan harus dilakukan dalam lingkungan kerja yang aman dan sehat.
2. Kondisi kerja harus konsisten dengan pekerja kesejahteraan dan martabat manusia.
3. Pekerjaan harus menawarkan kemungkinan nyata untuk pencapaian pribadi, pemenuhan diri, dan pelayanan kepada masyarakat
Pekerjaan dilakukan dalam lingkungan yang aman dan sehat,sebab dalam lingkungan yang sehatlah akan tercipa suasana yang aman. Aman disni berarti bebas dari macam bibit penyakit yang akan membahayakan pekerja sendiri. Tujuan K3 yang sesungguhnya adalah mengurangi resiko kecelakaan, dengan lingkungan yang aman ini juga akan mengurangi kecelakaan tersebut. Kondisi kerja harus konsisten yang dimaksudkan adalah kondisi kerja yang dapat menjamin kesejahteraan baik bagi pekerja itu sendiri atau bagi pasien.

C. Ruang Lingkup Kesehatan Dan Keselamatan Kerja
Kesehatan dan keselamatan kerja sesungguhnya mempunyai arti yang luas, tidak hanya ditujukan kepada tenaga kerjanya saja melainkan meliputi juga alat dan lingkungannya.
1. Keselamatan kerja tenaga kerja
Tenaga kerja harus dijaga jangan sampai menderita akibat dari pekerjaanya. Mereka perlu dicegah dan diselamatkan dari bahaya yang ditimbulkan atau diakibatkan oleh :
a. Bahan kimia / reagensia
b. Semua peralatan yang digunakan
c. Bibit penyakit yang ada disampel
d. Bahaya listrik dan panas
Mereka perlu diberikan ilmu untuk mencegah dan menyelamatkan dari masing-masing subyek diatas. Bahan kimia yang berbahaya dapat menimbulkan kerugian bagi tenaga kerja, alat dan lingkungannya.
Bahan kimia ini dapat :
a. Merusak secara langsung : asam keras dan basa keras
b. Beracun terhadap manusia : arsen, sublimat dan cyanida
c. Menimbulkan gas atau uap yang berbahaya bagi tenaga kerja : asam keras atau basa keras
d. Mudah terbakar atau meledak : eter, asam sulfat
2. Keselamatan kerja terhadap alat
Semua peralatan yang digunakan baik yang dibuat dari bahan gelas, logam, alumunium, plastik dan bahan lainnya perlu dipelajari cara pemakaian, pembersihan/sterilisasi, pemeliharaan dan penyimpanan. Bagi alat-alat elektris harus mendapat perhatian khusus lagi, karena alat-alat ini mudah rusak, terbakar dan berubah kualitasnya. Cara kalibrasi frekuensi kalibrasi harus dikerjakan secara teratur oleh tenaga ahli.
3. Keselamatan kerja lingkungan
Lingkungan kerja disini mulai dari ruangan, bangunan tempat bekerja dan lingkungna sekitar tempat kita bekerja. Lingkungan harus dijaga jangan sampai tercemar oleh sampah / air dari laboratorium, karena sampah dan air limbah laboratorium mengandung bahan berbahaya serta kemungkinan mengandung bibit penyakit.
Pembuangan sampah juga harus dibedakan, antara sampah cair dan padat. Sampah padat dimasukkan kedalam kantong plastik. Sedangkan sampah cair yang diperkirakan mengandung bibit penyakit diberikan desinfektan sebelum dibuang keluar, dan yang mengandung bahan kimia bahaya dinetralkan dulu dengan bahan kimia lain kemudian diendapkan dan dibuang keluar.

D. Penyebab Terjadinya Kecelakaan Dan Cara Pencegahannya
Dalam pelaksanaannya K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan bebas dari kecelakaan dan PAK yang pada akhirnya dapat meningkatkan sistem dan produktifitas kerja.
Untuk memahami penyebab dan terjadinya sakit kecelakaan, terlebih dahulu perlu dipahami potensi bahaya yang ada, kemudian perlu mengenali (identify) potensi bahaya tadi, keberadaannya, jenisnya, dan seterusnya. Setelah itu perlu dilakukan penilaian bagaimana bahaya tadi dapat menyebabkan risiko sakit dan celaka dan dilanjutkan dengan menentukan berbagai cara untuk mengendalikan atau mengatasinya.
Sebelum kita mengenali penyebab terjadinya kecelakaan, kita juga harus mengerti mengenai Determinan Kesehatan Kerja :

Determinan Kesehatan Kerja
Untuk mencapai produktivitas kerja yang setinggi-tingginya diperlukan suatu prakondisi yang menguntungkan bagi masyarakat pekerja tersebut. Prakondisi inilah yang penulis sebut sebagai diterminan kesehatan kerja, yang mencakup tiga faktor utama, yakni: beban kerja, beban tambahan akibat dari lingkungan kerja, dan kemampuan kerja.
a. Beban Kerja
Setiap pekerjaan apapun jenisnya apakah pekerjaan tersebut memerlukan kekuatan otot atau pemikiran merupakan beban bagi yang melakukan. Dengan sendirinya beban ini dapat berupa beban fisik, beban mental, ataupun beban sosial sesuai dengan jenis pekerjaan si pelaku. Seorang kuli angkat junjung di pelabuhan sudah tentu akan memikul beban fisik lebih besar daripada beban mental atau sosial. Sebaliknya seorang petugas bea dan cukai pelabuhan akan menanggung beban mental dan sosial lebih banyak dari pada beban fisiknya. Masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam hubungannya dengan beban kerja ini. Ada orang yang lebih cocok untuk menanggung beban fisik, tetapi orang lain yang cocok melakukan pekerjaan yang lebih banyak pada beban mental atau sosial. Oleh sebab itu, penempatan seorang pekerja atau karyawan seharusnya tepat sesuai dengan beban optimum yang sanggup dilakukan. Tingkat ketepatan penempatan seseorang pada suatu pekerjaan, di samping didasarkan pada beban optimum, juga dipengaruhi oleh pengalaman, keterampilan, motivasi dan sebagainya.
Kesehatan kerja berusaha mengurangi atau mengatur beban kerja para karyawan atau pekerja dengan cara merencanakan atau mendesain suatu alat yang dapat mengurangi beban kerja. Misalnya alat untuk mengangkat barang yang berat diciptakan gerobak, untuk mempercepat pekerjaan tulis menulis diciptakan mesin ketik, untuk membantu beban hitung-menghitung diciptakan kalkulator atau komputer, dan untuk membantu seorang analis diciptakan alat-alat yang canggih dan tepat.
b. Beban Tambahan
Di samping beban kerja yang harus dipikul oleh pekerja atau karyawan, pekerja sering atau kadang-kadang memikul beban tambahan yang berupa kondisi atau lingkungan yang tidak menguntungkan bagi pelaksanaan pekerjaan. Disebut beban tambahan karena lingkungan tersebut mengganggu pekerjaan, dan harus diatasi oleh pekerja atau karyawan yang bersangkutan. Beban tambahan ini dapat dikelompokkan menjadi 4 faktor yakni:
1. Faktor fisik, misalnya: penerangan/pencahayaan yang tidak cukup, suhu udara yang panas, kelembaban yang tinggi atau rendah, suara yang bising, dan sebagainya
2. Faktor kimia, yaitu bahan-bahan kimia yang menimbukan gangguan kerja, misalnya: bau gas, uap atau asap, debu, dan sebagainya.
3. Faktor biologi, yaitu binatang atau hewan dan tumbuhtumbuhan yang menyebabkan pandangan tidak enak mengganggu, misalnya: nyamuk,lalat, kecoa, lumut, aman yang tak teratur, dan sebagainya
4. Faktor sosial-psikologis, yaitu suasana kerja yang tidak harmonis, misalnya: adanya klik, gosip, cemburu, dan sebagainya.
Agar faktor-faktor tersebut tidak menjadi beban tambahan kerja, atau setidak-tidaknya mengurangi beban tambahan tersebut, maka lingkungan kerja harus ditata secara sehat atau lingkungan kerja yang sehat.

c. Kemampuan Kerja
Kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan berbeda dengan seseorang yang lain, meskipun pendidikan dan pengalamannya sama, dan bekerja pada suatu pekerjaan atau tugas yang sama. Perbedaan ini disebabkan karena kapasitas orang tersebut berbeda.
Kapasitas adalah kemampuan yang dibawa dari lahir oleh seseorang yang terbatas. Artinya kemampuan tersebut dapat berkembang karena pendidikan ataua pengalaman tetapi sampai pada batas tertentu saja. Jadi, dapat diumpamakan kapasitas ini adalah suatu wadah kemampuan yang dipunyai oleh masing-masing orang. Kapasitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: gizi dan kesehatan ibu, genetik, dan lingkungan. Selanjutnya kapasitas ini mempengaruhi atau menentukan kemampuan seseorang. Kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan di samping kapasitas juga dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, kesehatan, kebugaran, gizi, jenis kelamin, dan ukuran-ukuran tubuh. Kemampuan tenaga kerja pada umumnya diukur dari keterampilannya dalam melaksanakan pekerjaan. Semakin tinggi keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja, semakin efisien badan (anggota badan), tenaga dan pemikiran (mentalnya) dalam melaksanakan pekerjaan. Penggunaan tenaga dan mental atau jiwa yang efisien, berarti beban kerjanya relatif rendah. Dari laporan-laporan yang ada, para pekerja yang mempunyai keterampilan yang tinggi angka absentisme karena sakit lebih rendah daripada mereka yang keterampilannya rendah. Pekerja yang keterampilannya rendah akan menambah beban kerja mereka, yang akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan mereka. Oleh karena kebugaran, pendidikan dan pengalaman mempengaruhi tingkat keterampilan pekerja, maka keterampilan atau kemampuan pekerja senantiasa harus ditingkatkan, melalui program-program pelatihan, kebugaran, dan promosi kesehatan. Peningkatan kemampuan tenaga kerja ini akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan produktivitas kerja. Program perbaikan gizi melalui pemberian makanan tambahan bagi tenaga kerja, terutama bagi pekerja kasar misalnya, adalah merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan.Biasanya kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah dari kelalaian kita, ini menyebabkan, kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat.
Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu :
1. Kecelakaan medis, jika yang menjadi korban pasien
2. Kecelakaan kerja, jika yang menjadi korban petugas laboratorium itu sendiri
Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok :
1. Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari :
a. Mesin, peralatan, bahan dan lain-lain
b. Lingkungan kerja
c. Proses kerja
d. Sifat pekerjaan
e. Cara kerja
2. Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia yang dapat terjadi antara lain karena:
a. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana
b. Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect)
c. Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh.
d. Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik

Contoh-contoh kecelakaan Kerja
1. Terpeleset, ini juga biasa terjadi dilaoratorium, akibatnya terjadi memar ataupun fruktura
2. Kecelakaan waktu pengambilan sampel: biasanya tertusuk jarum dan memungkinkan tertulaar penyakit
3. Terjadi kebakaran dari bahan kimia yang berada dilaboratorium
4. Keracunan dari bahan kimia
5. Kesalahan dalam pemeriksaan
6. Tersengat listrik
7. Terkena pecahan alat yang terjatuh,
Dari semua contoh kecelakaan diatas, penulis menyimpulkan beberapa cara untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja
1. Menggunakan alat pelindung diri
2. Memisahkan bahan-bahan kimia yang berbahaya
3. Menimpan dengan baik bahan/sampel yang berbahaya
4. Memisahkan sampah antara yang sekiranya infeksius dan tidak
5. Pemberian pencahayaan yang cukup pada ruang kerja
6. Penyediaan tanda-tanda peringatan berbahaya
7. Tersedianya alat pemadam kebakaran,dsb
Sesungguhnya masih banyak hal yang dapat mencegah kecelakaan, tetapi penulis mencantumkann hal yang sekiranya penting.Karena dengan pencegahan inilah semua kecelakaan akan berkurang ataupun tidak ada kecelakaan. Dengan berkurangnya kecelakaan, kerugian yang tercipta akan berkurang dan sekaligus mebuat suasaba kerja menjadi aman dan produktifitas kerjapun akan tercipta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar